Subscribe:

Ads 468x60px

sedang melaut

Rabu, 20 April 2011

respon larva ikan terhadap intesitas cahaya

Cahaya merupakan faktor eksternal dan ekologi yang penting, termasuk spektrum warna, intensitas dan fotoperiodik. Karakteristik cahaya sangat spesifik dalam lingkungan perairan dan sangat bervariasi di alam. Ambang intensitas cahaya minimal yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan larva ikan.
Pada kondisi pencahayaan gelap, larva cenderung bergerak menyebar dalam mencari mangsa. Sehingga membutuhkan energi yang lebih tinggi. Aktivitas metabolisme yang tinggi memerlukan energi yang besar sehingga laju penyerapan kuning telurnya menjadi lebih cepat. Larva ikan pada hari pertama setelah menetas tidak ditemukan adanya pigmen pencahayaan pada matanya dan sedikit sekali diferensiasi penglihatan. Pada hari ketiga pigmen dengan retina yang bertingkat dan sel penglihatan telah berkembang. Selanjutnya pada hari kelima saraf optik dan cone (sel berbentuk kerucut pada retina) telah berkembang.
Intensitas dapat bervariasi, sebagai contoh antara 50 dan 150 lux untuk ikan Sparus auratus. Namun, beberapa spesies dapat tumbuh dan berkembang pada intensitas cahaya yang sangat rendah adalah seperti pada beberapa spesies larva ikan pelagis, sementara ikan kakap (Morone saxatilis). Pada saat larva umumnya hidup di daerah estuaria dengan air yang keruh. Juvenil ikan herring Clupea harengus, berenang cepat dan bertahan hidup ketika berpindah ke perairan yang gelap.
Ketika larva berubah menjadi juvenil maka rods (sel berbentuk batang pada retina) telah terbentuk. Cone dan rods merupakan fotoreseptor yang aktif bekerja dan peka terhadap gelap dan terangnya cahaya. Cone bekerja ketika kondisi terang, sedangkan rods bekerja pada kondisi gelap/samar. Dengan berkembangnya adaptasi terhadap gelap dan terang maka ikan muda (juvenil) mudah dalam menangkap mangsa. Aktivitas pemangsaan yang sukses akan menunjang pertumbuhan juvenil.
beberapa larva ikan masih belum berkembang organ penglihatannya secara sempurna sehingga sedikit sekali diferensiasi dalam membedakan cahaya terang dan gelap. Pada kondisi pro larva, cahaya dibutuhkan untuk stimulus pewarnaan (pigmentasi) pada organ penglihatan dan warna tubuh, suatu peristiwa yang penting di awal pertumbuhan dan perkembangan larva.
Secara umum, lama waktu penyinaran mempengaruhi kecepatan perkembangan larva. Ada atau tidaknya cahaya dapat memberikan pengaruh aktivitas yang berbeda terhadap larva ikan. Pergerakan aktivitas larva akan mempengaruhi laju penyerapan kuning telur saat larva berkembang dari pro larva menuju post larva. Efisiensi penyerapan kuning telur yang tinggi dapat terjadi akibat dari aktivitas larva yang rendah, sehingga kuning telur lebih banyak terserap untuk pertumbuhan.
Tingkat intensitas cahaya dibutuhkan untuk mengoptimasi pertumbuhan larva. Intensitas cahaya 600 – 1300 lx dapat meningkatkan pertumbuhan pada ikan seabream, sementara larva ikan kakap berkembang secara optimal pada 600 lx. Pada spesies lain, level optimum lebih rendah seperti pada atlantic halibut, pertumbuhan terbaik pada 1-10 lx. Disamping itu juga terdapat beberapa ikan yang sensitif terhadap intensitas cahaya yang tinggi. Hal ini terlihat pada ikan Southern flounder ( paralichtis lethogstigma ) yang dicobakan pada kisaran 340 – 1600lx dan tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan metamorphosis, pada spesies yang sama juga ditemukan perbedaan pigementasi pada post metamorphosis larva.
Peristiwa pergerakan berkumpulnya larva ikan di bawah cahaya dapat dibedakan sebagai peristiwa langsung yakni ikan–ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul dan peristiwa tak langsung yakni karena ada cahaya maka plankton dan ikan–ikan kecil berkumpul kemudian ikan–ikan kecil berkumpul kemudian ikan yang dimaksud datang berkumpul dengan tujuan feeding (mencari makan). Larva gurame lebih mudah mendapatkan pakannya saat ada cahaya yang dibuktikan dengan jumlah pakan paling banyak ditemukan dalam lambung larva gurame pada saat siang hari atau ada cahaya. Artemia bersifat fototaksis positif dan cenderung bergerombol mendekati sumber cahaya. Hal tersebut akan memudahkan larva ikan dalam menangkap artemia sebagai mangsanya.
Variasi pertumbuhan juga dapat dijelaskan melalui aktivitas larva memburu mangsa, dan sangat tergantung pada perkembangan penglihatan larva. Intensitas cahaya yang rendah dibutuhkan untuk mengembangkan aktivitas berburu secara normal. Larva sea bream lebih menyukai cahaya yang redup dengan tingkat kelangsungan hidup dan efisiensi pakan yang tinggi dibanding pada cahaya yang terang. Berdasarkan nilai rata-rata tingkat kelangsungan hidup yang dicapai maka suhu 28 oC merupakan suhu yang terbaik bagi kehidupan larva.

0 komentar: